Make your own free website on Tripod.com
The Diary
Wednesday, 22 June 2005
PROSA ANN
Mood:  flirty
MOMENT TO REMEMBER


Aku tak ingin lagi menyusuri sampai ujung taman ini . Aku hanya ingin disini . Bersamamu menghabiskan detik-detik waktu . Membiarkan helai rumput kehilangan bulir bening dalam timangnya . membiarkan surya menggiring embun kembali ke ranjang tidurnya . Dan membiarkan malam pekat turun seperti biasa . Aku hanya ingin diam disini . Dan hanya ingin bersamamu , meleburkan rindu yang sempat terkukung waktu .

Seperti ketika itu . Katika pertama kali kau buat gemuruh jantungku berpacu . Ketika pertama kali kau dekap aku dengan hangat jiwamu .

"Sayang , aku tak pernah dan tak akan pernah melupakan saat itu . Dan saat seperti itu yang aku rindu .Maukah kau diam disini sekedar mengingat dan mengulang saat seperti itu bersamaku ?", bisikku lembut ditelinga kirimu .

"Kekasih , aku sungguh menikmati saat seperti ini bersamamu . Dan ingin mengulangnya setiap waktu yang kau mau . Sungguh !", ucapmu sembari tersenyum tipis .
Namun kau alihkan pandanganmu dariku .Aku benci itu . Aku mencintai senyummu . Aku berharap senyum itu tak akan pernah memuai dari bibirmu .

Kuraih wajahmu dengan kedua tanganku . Kumulai dengan senyum .
"Sayang , bila kau sungguh menikmati saat seperti ini bersamaku , mengapa kau alihkan pandanganmu dariku ? Tak bolehkah aku sekedar menatap teduh kedua matamu dan menyelaminya lebih lama tanpa harus berucap sepatah kata ?".

Kau sentuh lembut kedua tanganku . dan menggenggamnya . Mata sayumu kembali menatapku . Bukan ungkapan rindu yang terusung sorot matamu . Namun ragu . Eantah , tak kutahu keraguan macam apa yang menaungimu . Dan aku masih disini menunggu ragumu pergi .

"Kekasih aku terlalu lapuk untuk menikmati saat seperti ini bersamamu", jawabmu lirih . Akhirnya terjawab sudah keraguan yang selama ini setia barsamamu . Dan lagi mata sayumu pergi dariku . Kau tak pula menyertakan senyummu setelah kalimatmu , meski tangan-tanganmu masih erat menggenggamku .

Kuraih kembali wajahmu dan kuusap lembut .
"Sayang , kamu selalu tahu bagaimana membuatku tersenyum .Dan aku ingin sekali melakukan hal yang sama terhadapmu . Denganmu merangkai tulip tanpa harus menyakiti tangan-tangan lembutmu yang biasa merengkuh jiwaku dan menghangatkannya . Denganmu di lantai Ibiz berdansa menghabiskan waktu . Bukankah ini hal yang manis untuk mengisi kebersamaan kita ?
Sayang , bukankah kita tak pernah memperkarakan jarak dan waktu ? Lau kenapa kau sibuk memperkarakan dirimu ?
"Sayang , bila kelam awan menyelimuti rona purnama , aku akan tetap disini bersamamu . Bila kusua bintang jatuh aku tak akan lari memungutnya , karena aku ingin cukup diam disini bersamamu . Bila resah menghalau senyummu untukku , aku akan tetap diam disini bersamamu .
Sayang, tumpahkan saja rindumu . Ceritakan gejolak yang mengganggu . Aku masih disini bersamamu .
Sayang ,kesini dekat aku , karena cintamu bersamaku", pintaku lirih sembari teresenyum .

Kau tersenyum . Matamu menatap lekat padaku . Aku menikmatinya . Karena memang itu yang aku tunggu darimu .Kini tak akan lagi kuperdulikan lagi gemuruh jiwa . Tak aku perdulikan pula detik demi detik berlalu . Karena aku hanya butuh diam disini bersamamu .

"Sayang , sampai kapan cintamu padaku ?", tanyaku ragu sambil makin kubenamkan diri dalam dekapmu .

"Kekasih , aku akan mencintaimu sampai terhenti detak jantungku untuk bisa kau hitung", jawabmu dan semakin erat kau dekap aku .
Demi Tuhan ! Kata itu yang sesungguhnya aku tunggu . Terima Kasih sayang ......


Posted by listy-listy at 11:42 PM EDT
Updated: Friday, 24 June 2005 4:15 AM EDT
Thursday, 16 June 2005
PROSA ANN
Mood:  a-ok
AKHIR MIMPI BODOH


Kemarin mungkin perasaanku menepi . Luruh dalam gundah dan lara yang sakit . Meninggalkan jejak-jejak keinginan yang jadi buram . Dan setapak demi setapak mundur hasrat langkah kuayunkan .

Menipu diri yang kerdil . Melamunkan mimpi yang memuncak kemarin . Mencoba pinjam seulas senyum parempuan malam . Menari gemulai diantara belaian mesra semilir angin . Oh.....betapa moleknya ....

Rona jingga lengkap dengan asesorisnya . Melengkapi rupa cantik , yang tak luruh terlihat abadi . Menanti puisi cinta ungkapan hati para pujangga . Seraya menebar bulir-bulir senyum kosong hampa makna . Tanpa memilih , tanpa memilah .

Hanya sekedar menjadikan diri bahan sanjungan . Dengan gelak canda tak bermakna bahagia . Mengabaikan kata-kata indah yang sesungguhnya cerca tak kentara .
Nurani perlahan sirna ,mati dan teronggok sia-sia .

Dan hari ini kuusung kembali mimpi-mimpi yang membuatku sakit . Kuluruhkan semua dalam debu-debu kotor yang membuatku perih .

Aku biaskan diri dalam cermin yang retak kemarin . Kujumpa bahagia terpancar dari guratan-guratan yang sempat membuatku sedih . Aku sadar aku mulai melapuk . Namun....senyumku sekarang nyata .

Ternyata tanpa meminjam senyum perempuan malam aku masih berhak tertawa . Tanpa mengingat hasrat puisi-puisi cinta ungkapan para pujangga aku masih berhak bahagia .

Hari ini ...
Aku bebaskan diri dari belenggu hayal imitasi yang memasung . Kutinggalkan imaji yang membuatku sakit . Dan senyum yang kusunggingkan sekarang , aku harap abadi .

Posted by listy-listy at 9:24 AM EDT
Tuesday, 14 June 2005
PUISI ANN
Mood:  hug me
JAWAB AKU

Aku terjerat tali-tali bangsaku
Membelit setiap sendi hidupku
Meremukkan tulang harapanku
Meninggalkan memar biru yang ngilu
Aku menangis
Aku merintih
Dalam ketidakberdayaanku

Mengapa ????
Mengapa bangsaku bersekutu dengan domba bertaring dan berkuku serigala ??
Tidakkah bangsaku tahu ,
Mimpiku habis dikunyah domba itu ?
Tidakkah bangsaku sadar ,
Aku dijadikan pekerja rodi domba itu ?

Aku menggelepar-gelepar mempertahankan sepenggal nyawa yang masih tersisa
Aku berteriak menyerukan sakitku
Aku menjerit menyuarakan hak-hakku
Namun....
Bangsaku mendengar sebagai parodi gagal

Getir , pahit, luka, derita , pengorbannan
Itukah hakku ?
TIDAK !
Karena getir , aku berani merangkai mimpi
Karena pahit , aku berani menyulam harapan
Karena luka , aku ingin lebih sempurna
Karena derita , aku mau bahagia
Dan karena pengorbannan aku dambakan tawa

Sekarang aku tanya bangsaku
Apakah aturan-aturan itu hanya untuk menjeratku ?
Hanya itukah yang bisa bangsaku perbuat untukku ?
Pantaskah bila kusebut bangsaku pecundangku ?

Sekarang kuteriakkan
Dengar dan buka telinga kalian lebar-lebar !
Sakitku itu pamrih
Tangisku juga pamrih
Pengorbannanku tak lain karena pamrih
Kembalikan darah-darah senyumku yang kau hisap
Karena aku bukan pendonor dermawan

Kalau kemarin kalian picingkan mata memakiku
Menyebutku budak-budak bodoh tak berarti
Kini kubukakan mata kalian
Memandangku tanpa memicing
Karena meski aku cacing , lihat jasaku yang telah menyuburkan kantong kalian
Hitung angka nominal yang kau raup tanpa setahuku

Sekarang aku sadarkan kalian bangsaku
Kalian hanya sekedar onggokan benalu tak tahu malu
Menumpang hidup dari cacing-cacing sepertiku
Punyakah nyali kau ucapkan terima kasih atas jasaku ?

Posted by listy-listy at 10:01 PM EDT
Updated: Thursday, 16 June 2005 4:43 AM EDT
PROSA ANN
Mood:  bright
SENJA


Senja hampir mengusir mega. Di bibir jalan aku menunggu untuk menyapamu. Dan selalu senja seperti ini yang kupilih. Mungkin gelora rindu yang memaksaku Mungkin kau teman bicara terbaikku. Atau mungkin aku sekedar ingin menghabiskan senja seperti ini bersamamu.
Entahlah.....! Sampai kapan akan kupilih senja seperti ini?
Bila berhak, akan selalu kupilih senja seperti ini.

Jika ternyata tidak, mungkin sampai senja seperti ini tak ada lagi. Atau sampai kau mendapatiku di bibir
jalan sesungguhnya dan kau kata kecewa, hingga kau tak lagi setujui senja yang kupilih.
Senja ini, di bibir jalan virtual ini,kembali juga waktu manis yang kita sepakati.

Kata-kata terangkai begitu saja, mengalir apa adanya .
Kau tahu, apa yang aku rindukan dari senja seperti ini? Itu karena tawa lirihmu disela-sela katamu.
Juga karena senyum terkulummu ketika menertawai kata-kata bodohku.
Teman bicaraku ! Tetaplah begitu. Aku mencintainya.

"Teman bicaraku yang mencintai senja ! Akankah kau
tetap mencintai seseorang yang mencintai keagungan lain yang tak selaras dengan keagungan yang kau cintai? Dan apa yang akan kau lakukan atas ketidakselarasan keagungan yang kalian cintai?", tanyamu mengisi senja
ini.

Sedetik aku terdiam. Memaksa otak bekerja mencari jawab.
"Teman bicaraku ! Aku akan mencintainya. Tetapi aku tak akan pernah mencintai keagungan yang dicintainya.
Dan aku akan biarkan cinta itu apa adanya. Karena aku juga tak akan mengajaknya mencintai keagungan yang aku cintai yang sesungguhnya tak dicintainya. Aku tak mau jadi penguasa atas cinta dengan meleburkan keagungan yang dicintainya dan menjayakan keagungan yang aku cintai", jawabku.

Jujur aku sangat meyakini kebenaran jawabku.
Namun....
"Teman bicaraku yang mencintai senja! Seandainya keagungan yang kau cintai diibaratkan kapal pesiar, yang kau yakin akan kesempurnaannya. Dan kau yakin pula kapal pesiarmu tak akan karam.
Sementara keagungan seseorang yang kau cintai diibaratkan sampan, yang ternyata usang dan rapuh, dan kau yakin pula beberapa jam kemudian akan karam. Lalu, tegakah kau membiarkan seseorang yang kau
cintai karam bersama keagungan yang dicintainya?
Relakah hatimu kehilangan seseorang yang kau cintai tanpa berbuat apapun untuk menyelamatkannya?", ucapmu membekukan kataku.
Aku diam.

"Teman bicaraku yang mencintai senja! Alangkah mulianya bila kau mengingatkan seseorang yang kau
cintai akan sampan usangnya yang akan karam? Alangkah berbudinya, bila kau berikan tempat baginya untuk dia berlayar bersamamu tanpa harus karam sia-sia bersama keagungan yang dicintainya?
Andaipun seseorang yang kau cintai kukuh ingin berlayar bersama sampan usangnya, toh itu pilihannya
Setidaknya kau telah mengingatkan dan memberi kesempatan untuk seseorang yang kau cintai berlayar
bersamamu dengan keagungan yang kau cintai.

Teman bicaraku yang mencintai senja ! Masihkah kau pada niatmu membiarkan seseorang yang kau cintai mencintai keagungan yang dicintainya tanpa berucap satu katapun untuk mengingatkannya?". Satu kalimat
tanyamu mengusik diamku.

"Teman bicaraku! Tak akan kubiarkan seseorang yang aku cintai karam sia-sia. Benar ucapmu. Akan lebih berharga kalau aku mampu membawanya mencintai keagungan yang aku cintai. Namun, tanpa harus memaksanya mencintai keagungan yang aku cintai tersebut. Sekedar mengingatkan, bila keagungan yang
sungguh dicintainya tak sesempurna keagungan yang aku cintai dan sekarang erat dalam dekapku".

"Teman bicaraku ! Terima kasih.
Terima kasih karena mengingatkan aku akan keyakinan yang salah atas jalan nalar yang aku tuju.
Terima kasih karena kau izinkan aku mencuri sedikit sifat tegar dan kecintaan akan nalarmu.
Terima kasih pula karena selalu kau setujui senja manis yang aku pilih".
"Teman bicaraku ! Aku masih akan menunggu senja
seperti ini lain kali. Bagaimana denganmu?".

Posted by listy-listy at 10:00 PM EDT
Updated: Thursday, 16 June 2005 4:45 AM EDT
PUISI ANN
Mood:  flirty
JIKA KAU

Jika kau terapung oleh ragumu
Carilah mata hatiku di antara sesatmu
Akan ku usung limpahan jawab atas tanya
Akan ku tunjukan jalan untuk langkahmu

Namun....
Bila aku yang jadi ragumu
Kembali tengok mata hatiku
Nikmati tiap gulir senyumku
Bila damai yang kau temu
Ragumu itu palsu..
Namun....
Jika gundah memaksamu
Tinggalkan aku di antara kepingan hatiku

Tapi....
Bila kau tak mampu beranjak atasku
Kembali tengok mata hatiku
Coba sentuh pula jantung milikmu
Tanyakan apakah detaknya untukku
Bila iya jawab perasaanmu
Kenapa kau ragu atasku ?
Jika tidak jawab perasaanmu
Aku tulus rela kau tinggalkan aku

Posted by listy-listy at 9:58 PM EDT
PUISI ANN
Mood:  a-ok
TANYA AKU

Jika kau ingin tahu,
dimana sehelai sayapmu jatuh
Tanya aku !
Karena aku telah menyimpannya dalam laci hatiku

Jika kau ingin tahu ,
kemana mutiara mutiara bening matamu akan berlabuh
Tanya aku !
Karena aku telah menyiapkan bilik dermaga di hatiku

Jika kau ingin tahu,
siapa yang akan membalut luka memar hatimu
Tanya aku !
Karena aku akan membalutnya dengan dekap kasihku

Jika kau ingin tahu,
siapa yang akan mau menerima cintamu
Tanya aku !
Karena aku telah simpan jawabnya di hatiku
Dan itu aku

Posted by listy-listy at 9:58 PM EDT
PUISI ANN
Mood:  a-ok
ANAK RUMPUT

Anak rumput di bibir sungai,
Terayomi teduh semak perdu bonsai
Walau kala malam menjelang ,
omelan jangkrik mengoyak gendang telinga
Mengusik tidur malam
Bersekutu dengan angin,
membekukan tubuh polosnya yang masih telanjang
Dan arus itu lebih keji
Bukan sekali dua kali meludahi
Namun anak rumput selalau berucap,
"Terima kasih"
Ludah itu dingin
Ludah itu tidak wangi
Ludah itu tidak pula mencaci
Tapi ludah itu kehidupan

Anak rumput mendongakkan helai-helai tubuhnya
Coba tancapkan ujung mimpi di sela-sela bintang
Namun...
Tangan mungil keinginan,
hanya mampu menyentuh pinggang semak perdu bonsai

Anak rumput membungkuk
Barkaca pada sungai,
dan bertanya,
"Begitu kerdilkah aku?"
Sungai hening
Perempuan malam tersenyum, bukan mencibir

Anak rumput menari dan tertawa
Mengikuti alunnan irama hati kecil
Dan berucap lagi,
"Aku layak bahagia
Toh perempuan malam masih mau tersenyum
Arus tak enggan memberikan percikan kehidupan
Jangkirik-jangkrik masih mau bersenandung,sungguhpun
kadang mengusik
Dan bayi embun nyaman dalam timang dekap rapuhku".

Posted by listy-listy at 9:57 PM EDT
PUISI ANN
Mood:  sad
UNTUK MENGINGATMU

Aku tak pernah menyisakan malam tanpa mengingatmu
Mungkin kenangan kita adalah serentetan dongeng
Dengan ribuan karakter dan kisah
Dan semua,
Perlahan menyeruak menembus angan
Menyisakan perih,luka,dan cinta

Dan ketika malam melapuk
Aku meratap di sudut nestapa
Merintih lirih ,samar tak terdengar
Kutatap serpihan bintang tanpa menghitungnya
Karena....
Karena malam ini hanya untuk mengingatmu

Kemudian terusung galau
Terbenam rindu dalam
Dalam sekali....
Kutelusuri setiap duri
Kupilah setiap luka
Tapi ternyata sakit
Sakit sekali....
Namun aku tak perduli
Karena sisa malam ini hanya untuk mengingatmu
---oOo---

Posted by listy-listy at 9:56 PM EDT
PROSA ANN
Mood:  sad
WAN CHAI

Menapaki mimpi yang meruncing .Mengharap segepok bahagia dalam genggam. Cinta menjelama duri-duri perasaan. Kenangan menggores membuat perih dan akhirnya menangis.
Namun......
Bukan berkehendak melalaikan debur-debur gelombang cintamu. Bukan pula mengabaikan peluk kasihmu. Jika berhak memilih , aku tak pernah mau beranjak darimu .
Tapi.....
Waktu tak berhak membelengguku . Aku memiliki hidup dan aku mencintainya .Mengapa tak membuatnya lebih berharga ?
Kerikil-kerikil perjalannan pernah membuatku meringis .
Menggores dan membekas jelas . Mengabadikan kenangan luka jiwa .
Tapi......
Tak cukup air mata tuk menangis dan menyesali diri
Telah kupilih hidup . Ku pilih pula jalan beraral melintang ini .Mengapa aku harus menangis ? Mengapa tak kucoba mencintainya ? Seperti mencintai purnama ketika kalut. Seperti mencintai gunung ketika rapuh . Seperti mencintai kicau burung ketika berkabung.
"Senyum aku merinduimu . Terima kasih kau hadir diantara galauku".
Bila malam tak bertahta bintang . Aku akan tetap mencintainya .Mencintai awan kelam meski kadang menyembunyikan arah jalan keinginan . Karena disini masih kusimpan cinta . Disini pula kupatri kenangan indah .Ujung jalan yang kutuju tak akan membuat kecewa . Aku percaya . Aku sangat percaya .
Entah.....
Tak pernah kutahu yang mengikis sedihku . Tak pernah pula kucari tahu bagaimana sakitku sembuh .
Yang aku tahu........
Cintamu disini . Bersamaku . Menyusuri setapak sederhana jalan yang kutuju .
Malam tak berhenti mengayun hayal . Dan tak kukekang pula lamunan .Karena separuh nafas yang kupunya masih bersamamu .
Bila esok mentari hadir setelah kita kuras rindu . Harapku pelangi akan menyertakan luapan perasaanku untukmu . Bila aku rindu akanmu . Bila tak pernah kutinggalkan cintamu . Bila aku mencintai perjalanan ini .
Kuyakinkan....
Suatu saat aku kembali . Bersamamu menapaki perjalanan lain .
Nanti......
Kan kuseka sisa isakmu . Kan kuisi kerontang jiwamu dengan hadirku . Kan kubopong lelah penantianmu dengan kasihku .
Parcayalah....
Tuhan melihat kita dan Dia menunggu . Menunggu waktu yang indah tuk kukembali padamu .
"Huhh !", kuhembuskan napas kuat-kuat .
Entah karena apa selalu kenangan yang sama , ketrika kutelusuri persimpangan-persimpangan dan lorong-lorong kota ini .
Wan Chai.....
Malam ini aku kembali . Dengan kuboyong harap dan mimpi yang sama aku menjumpaimu . Langit sepi . Tanpa lukisan bintang bercecer ataupun kehadiran bulan sabit .
"Sungguh miskin malam ini", gumamku .
Namun.....
Wan Chai terasa masih pagi . Jalan-jalan masih belum tidur . Lentera-lentera masih menyala .Deru-deru roda-roda masih berpacu memecah sunyi .
Dan aku disini.....
Ditengah-tengah Wan Chai diantara desakan-desakan ribuan manusia .
Wan CHai gerah......
Mungkin angin kapok menerobos kota ini . Gedung-gedung menjulang menepisnya setiap niat singgahnya .
Langkahku selalu terhenti disini . Dan aku selalu termangu disini . Menatap saudara-saudara perempuanku yang cantik . Bukan karena benci . BUkan pula karena ingin memaki .
Yang ingin kutahu.......
Mengapa saudara-saudara perempuanku terdampar disini ?
Rongga dada terasa menyempit . Hingar bingar dan lengkingan-lengkingan tawa menyeruak . Mata-mata lelaki jalang menghujam tubuh molek saudara-saudara perempuanku . Tak cukup sekali dua kali jari-jari nafsu lelaki melumat pesonanya .
"Aku tidur untuk makan", seloroh saudara perempuanku sembari tersenyum .
Dan.....
"Oh.....", aku terbelalak .
Seorang saudara perempuanku melenggang pergi dariku . Bersama kebahagiaan kosong yang mendekapnya . Dia tinggalkan sebulir senyumnya untuk kunikmati .
"Sungguh bahagiakah yang kau bawa atas sebulir senyum itu ?"
Kau lunglai . Tertunduk layu menekuri makna hidupmu saudara perempuanku .
Termenungku usai . Seorang lagi saudara perempuanku datang padaku . Dia cantik . Terlewat cantik untuk seorang pencari mimpi dari jauh dengan hanya membawa tekad dan keberanian .
Dan senyum itu.......
Aku mencintainya untuk kutatap lama . Hendak kulempar senyum termanisku untuk menyambutnya .
Namun......
Lagi-lagi tertelan bersama resah . Tak bisa kuhitung seberapa sering aku datang padanya . Dengan ribuan harap dan mimpi yang sama pula . Tapi aku selalu pulang sia-sia .
"Saudara perempuanku , pulanglah bersamaku!", pintaku lirih sambil kupenuhi ruang kosong hatiku dengan harapan-harapan .
Namun gelak tawa saudara perempuanku menepis genggamanku .
"Disini tempatku . Disini pula istana yang kumau . Disini pula limpahan bahagia kutemu . Tidakkah kau lihatbahagiaku diantara gurat-gurat senyumku ? Pulan bersamamu ? Kemana ? Ke lorong-lorong yang mengukung ? Tidak ! aku mencintai tempat ini . aku mencintai tiap gurat senyum yang kusunggingkan . Dan aku mencintai hidup ini . Pulanglah sendiri . aku tak akan kembali ".
Aku terkesiap. Ucapan saudara perempuanku meledakan sakit di batin . Sedetik aku diam . Memaknai kata-kata yang membuatku terlampau sedih . Kembali kuraih hatinya . Masih kutatap pula binar matanya .
"Saudara perempuanku . Ini bukan tempat indah untukmu . Bukan pula sungguh bahagiamu . Bukan pula sungguh senyummu . Mari......pulang bersamaku ! Cintamu yang lalu masih setia menunggumu . Disana kan kau sua dekap kasih yang kau rindu . Disana pula kan kau sua harap atas pergimu .Ingat itu ! Terlupakankah jerit-jerit perut kecil yang membawamu pergi ? Terlupakankah raga ringkih yang menjadi alasan kau pergi ? Mereka menunggumu kembali . Bukan jalan ini yang seharusnya kau susuri . Pulanglah bersamaku ! Aku mohon ! ", pintaku masih dengan menggenggammu .
Namun......
Lagi-lagi kau menepisku . Bahkan kali ini kau tertawai aku .
"Aku tak akan pulang bersamamu . Cintaku disini . Senyumku mengembang pula disini . Biarkan aku menikmatinya . Sekali lagi , aku mencintai hidup ini . Pergilah ! aku tak akan pulang bersamamu", ucap saudara perempuanku sembari berlalu dari ku . Dan senyum itu dibawanya pula tanpa sisa .
Aku sakit.......
Sebulir air matku mengalir . Aku tak pernah menyesali hidup ataupun takdir .
Tapi...........
Disini aku meninggalkan saudara perempuanku dengan rasa perih . Menangisi hidup saudara perempuanku yang dia sangat cintai .
Dan.......
Entah kapan lagi aku akan kembali kesini . Setelah luluh latak harapku malam ini .
Wan Chai .......Aku pergi .

Posted by listy-listy at 9:55 PM EDT
Updated: Thursday, 16 June 2005 4:48 AM EDT
PUISI ANN
Mood:  bright
HARAPKU ATAS PENATIANMU

Bersama lantunan rindu
Kusua kau bersama tiupan semerbak angin
Nantikan aku di jembatan yang kita bangun

Kan kubawa cinta yang kubawa dari surga
Jika dingin menyergapmu hingga kau lelah
Sertakan goresan-goresan sajak yang ditulis waktu karena rinduku
Longok serpihan bintang yang malu-malu mengintipmu
Sadarkah kaau ?
Mereka mau sepertimu
Menungguku dengan cinta dalam dekapmu

Mungkin takut akan menyergap sisa nyali
Jangan luluh latakkan senyummu
Jiwamu telah kupeluk dan kau tak sendiri
Biarkan jalinan kita erat oleh degup jantung

Saat nanti kan kita arungi janji-janji kita bersama biduk pertama yang berlabuh
Penatianmu tak akan kubiarkan sia-sia
Lalaikan saja topan yang akrab dengan debur gelombang
Tetap tunggu aku di jembatan yang kita bangun

Kasihku !
Hari-hari mungkin jadi kubangan hingga kau resah untuk beranjak
Syair-syair lain mungkin menyihirmu
Tapi aku tak pernah berhenti yakinkan hati
Janji ini punya kita
Aku percaya kau menjaganya

Kasihku !
Tak akan kulalaikan bulir-bulir senyum yang menjadikan mutiara hatiku
Kasihku !
Terima Kasih

Posted by listy-listy at 9:54 PM EDT
Updated: Thursday, 16 June 2005 4:50 AM EDT

Newer | Latest | Older

You are not logged in. Log in
Entries by Topic
All topics  «